2017/02/21

"Silly Little Things" #1

Ku pikir memiliki kekasih akan menyenangkan setiap orang. Setidaknya membungkam mereka yang selalu bertanya "mana calonnya?"disertai pandangan iba. Ternyata hidup tak semulus dan selancar jalan tol. Kali ini pandangan mereka berganti geram. Hehehehe

Kuceritakan sesuatu. Tuhan mengantarkan seseorang padaku, Aku menganggapnya begitu karena dia datang begitu saja tanpa petir atau hujan. Kedatangannya di hari yang sama dengan kemarin dan kemarin. Aku bukan orang yang mudah membuka hati, aku bahkan lupa dimana kuncinya seolah hati memiliki kehendaknya sendiri. Ini yang kusebut "kehendak Tuhan". Jika Aku memiliki kendali, akan ku buka untuk mereka yang datang sebelumnya. Makanya tiap kali menyukai seseorang...kegirangan ku melompat tinggi berikut rasa syukur karena jatuh cinta itu sangat menyenangkan, rasa takutnya pun hal yang tak kalah mendebarkan. "Jatuh cinta" menjadi hadiah dan cobaan bagiku. Kali itu..hatiku tak menolak dirinya, walaupun tidak berloncat kegirangan juga.

Aku bukan orang yang mendapatkan sesuatu dengan mudah, bahkan untuk hal-hal kecil dalam hidup seperti urusan sekolah, kerjaan, cinta. Makanya saat Tuhan mempertemukan dengan seseorang begitu saja, lalu semuanya berjalan dengan baik begitu saja, rasanya ada yang terlupa. Benar saja, hanya butuh sebulan untuk Tuhan membuktikan cintaNya. Dia menitipkan banyak kerikil di jalan, memaksaku untuk berhenti dan memungutinya satu-satu. Mungkin sebelumnya ada hujan kerikil atau Tuhan menyuruh Malaikat menumpahkan sejuta ember kerikil.

Dia yang datang padaku, memberi banyak kebaikan tapi juga membawa banyak masa lalu. Kupikir cukup hanya diriku yang tahu, pemakluman dan segala kekuatiran. Ternyata bukan hanya aku, kisahnya melibatkan orang banyak, meninggalkan kesan buruk di mana-mana. Banyak yang menggugatku, menyesalkan, menkuatirkan, menggunjingkan. Aku tak tahu seberapa kuat hatiku mampu mengabaikan, atau seberapa lebar senyumku mampu mendengar tudingan...yang pasti ini menyesakkan.

Aku tak bisa marah karena yang dikatakan mereka benar adanya, tak bisa geram, sedih pun tak ada yang peduli mungkin. Aku hanya bisa diam, tersenyum..sedikit tertawa tapi miris dalam hati. Membela diri pasti akan menyakitinya dan membelanya pasti akan membuat mereka semakin geram. Sedang diriku? Siapa yang akan membelaku, setidaknya menepuk bahuku dan mengatakan semua tidak seburuk yang terlihat. 

Aku mengerti sepenuh hati dan jiwa betapa mereka yang menegur, menggugat bahkan mencibir sangat menyayangiku. Mereka memiliki ekspektasi untuk hidupku. Mereka melekatkan konsep ideal padaku dari citra yang membentukku selama ini. Aku harus menjaga konsep ideal itu tidak hancur dan menghancurkan mereka yang bercermin padaku. Tapi..ada dirinya yang juga menyayangiku, Kata Ibu, selain terhadap mereka...Aku pun memiliki tanggung jawab terhadap hidupnya. Siapa yang memberiku semua tanggung jawab itu?? 

Saat ini Aku memikirkan keputusan yang adil untuknya, untuk orang tuaku, untuk mereka dan untukku. Keputusanku berganti setiap waktu. Saat keberanianku muncul..Aku memihaknya, saat ketakutan menghampiri..Aku meninggalkannya. Tapi...apapun keputusanku, tak ada yang menjamin hidupku akan bahagia kan?? *sigh

Note : Maafkaan galau iniiiii..:(



2017/02/05

New Year's Gift



Haiii...Happy New Year '17
Awal tahun dan Tuhan telah memberi banyak kebaikan padaku seperti biasa dan salah satunya adalah "dia".  Aku akan bercerita tentang nya, tentang semesta yang merapal mantra cinta dan tentang rasa yang memeluk kami berdua.

"Dia"...seperti dijatuhkan Tuhan dari langit. Datang begitu saja tanpa satu pikir menyapa sebelumnya. Aku mencari jejak kakinya saat menoleh ke belakang. Mungkin ada jejak saat  jalan kami bersilangan atau tatap yang pernah beradu penuh makna, agar Aku dapat sedikit memahami "dia" yang tiba-tiba menghujani ku rasa. 
Hari itu, Aku duduk menunggunya tanpa rasa yang menggangu. Aku yang biasanya berpikir banyak, saat itu  memutuskan untuk tak menkuatirkan apapun. Aku bahkan tak memiliki alasan cukup untuk mengiyakan pertemuan. Mungkin semesta yang menyeretku, entahlah.
Dia datang dengan semua kegugupan dan keberanian yang seolah di tumpuk dalam dirinya. Senyum yang mengembang menutupi ragu, takut, rasa tak percaya, juga bahagia...mungkin. Aku tak merasakan apa-apa. Aku hanya senang karena mendapat cerita baru diantara rutinitas hidup awal tahun ini.

...dan di sinilah Aku akhirnya berada. Hampir 3 minggu berusaha menjaga komitmen di antara keraguan orang tuaku, teman yang laiknya saudara, bahkan logika ku sendiri. Yupp..ragu ku setumpuk langit, tapi Aku tetap ingin menjalaninya. Bukankah hidup adalah proses jatuh bangun. Kita terjatuh dan belajar sesuatu, kemudian bangkit dan belajar yang lain, lalu kembali jatuh dan kembali bangun, kembali belajar dan memahami makna. Aku mungkin belum memiliki rasa dan rindu sebesar dirinya, tapi Aku yakin akan ikut merasakannya, suatu saat. Setidaknya ini adalah pilihan sadar, saat sesuatu tidak berjalan baik..Aku hanya akan menyalahkan diri sendiri, bukan dia, teman, orang tua bahkan Tuhan.

Hei kamu..yang datang di hidupku, mari menjalani hidup dengan baik dan belajar bahagia agar dapat membagi bahagia dengan lainnya. Terima kasiiiih.

2016/12/28

Sepatu yang "Pas"


sea, boots, and shoes image
Find Yours
Haiiiii...
I can't say that this time is d' worst phase of my life, but one of them...

Urusan jodoh selalu membuat depresi, merusak hubungan dengan teman bahkan orang tua dan menurunkan kepercayaan diri hingga ke dasar. Saat ini, semua orang tiba-tiba merasa bertanggung jawab untuk hidupku. Seolah urusan jodoh ini membebani mereka. Sebenarnya, saya merasa terharu dan berterima kasih sepenuh hati. Ini bukti sayang mereka dan saya sangat menghargainya. Masalahnya adalah, jika mereka seolah menarik siapa saja di jalanan agar persoalan ini selesai.
Mereka malah membuat hidupku semakin menyedihkan.

Menurutku...jodoh itu seperti sepatu. Kita butuh banyak faktor sebelum memilih sepatu. Mungkin kita sangat menyukai sebuah sepatu tapi karena terlalu mahal, atau tak tersedia di sekitar maka kita tak dapat memilikinya. Sepatu murah dengan ukuran yang pas tetapi modelnya tidak sesuai juga tak bisa jadi pilihan. Sepatu bagus, model menarik tapi jika tak ada ukurannya juga tak bisa di miliki. Bagaimana jika seseorang membawakan sepatu dengan ukuran yang pas tetapi bukan selera kita. Ini juga tidak akan membuat bahagia. Mungkin kita akan mengambilnya, tapi yang terjadi selanjunya..sepatu itu akan tersimpan di lemari, mungkin hanya akan dipakai sekali itupun dengan kepercayaan diri yang merosot jauh. Ini bukan soal harga, bukan soal model, bukan kualitas karena apapun akan bisa menjadi alasan yang membuat sepatu itu tak nyaman. Ini tentang rasa saat memakainya. Rasa yang "pas". Rasa itu menjadi jaminan untuk kenyamanan yang diberikan. Saat semuanya "pas" maka sepatu itu akan jadi harta yang paling berharga, bahkan saat dia mulai luntur, kusam dan menua.

Apa cuma diriku yang urusan jodohnya serumit ini? hehehehe. Saya ingin memberi bahagia untuk semua orang..karena saya pun adalah orang...maka termasuk memberi bahagia untukku. Berharap segera dimudahkan semuanyaaaaaaaaaaa. Jika tidak, mungkin saya harus segera mencari psikolog, rasanya batas kewarasan mulai mengabur. ;((



2016/08/16

PENGANGGURAN TEMPORER

Jobless

HAAAIIIIIIII!!!!!!

I miss this a lot, sharing anything in this site. Aku hanya cukup memuntahkan banyak, semua obrolan di dalam kepalaku. Cukup membaginya di sini dan malam nanti Aku akan tidur senyenyak bayi yang baru saja menyusu, tidur kekenyangan.

Nah..ini critical point, Aku memiliki antrian pikir, ide, masalah, ganjalan, apalah namanya...sesuatu yang mendekam di dalam kepala, semuanya menunggu gelisah untuk segera dimuntahkan, ada yang masih berbentuk, ada yang akhirnya mencair, ada yang bergabung dengan lainnya membentuk rupa baru. Sayangnya,  Aku tak dapat menemukan kata yang mampu menerjemahkan mereka dan biasanya akan berkahir dengan Aku tak menuliskan apapun. Mereka mengutukku.

Mmmm...bagaimana jika Ku coba memulainya dengan hal sederhana, seperti "bagaimana rasanya selesai sekolah??" Berikan selamat padakuuu...hehe. Aku akhirnya lulus juga setelah 11 semester yang penuh haru biru. Seharusnya Aku menamatkannya setahun lalu. Tak ada alasan pasti, hanya terjadi saja seperti itu, waktu terlewati. Jika boleh, Aku menyesali banyak hal karena terlambat selesai seperti wisuda yang tak akan di hadiri orang tua tercinta karena mereka pergi Haji, atau harusnya Aku dah punya duit banyak saat ini. Tapi masa lalu bukan sesuatu yang bisa  diubah, disesali dan diterima saja lalu disyukuri.

Nah, "RASA" nya pa? Lega mungkin, seperti perasaan setelah buang hajat. Bayangkan menahan pup yang sudah di ujung tanduk, dalam mobil bersama beberapa teman yang sedang ngobrol asyik tentang rencana nonton dan terjebak macet, terus tiba-tiba kemacetan terurai, jalanan lancar dan mobil singgah isi bensin yang artinya waktunya ke kamar mandi. Leganya seperti itu, hanya saja tak bertahan lama. Sehari, dua hari dan tiba-tiba hidup rasanya tak bertujuan. Awalnya menyenangkan, tidur tanpa kuatir lupa membaca buku, bangun tanpa kuatir terlambat ke sekolah, bisa baca novel tanpa merasa bersalah, streaming film seharian ataupun hanya berguling-guling di tempat tidur. Lalu, semuanya kembali membosankan. 

Yaah.. Aku menjadi "Pengangguran Temporer". Kata mereka, nikmati saja..liburan dulu sebelum kembali sibuk. Tapi liburan butuh duit cynn, dan pengangguran berarti tidak produktif termasuk tidak memproduksi duit. Menyedihkan yah!

Jika ada yang bisa saya petikkan pelajarannya, ada beberapa tahap yang akan dilalui setelah selesai sekolah, mau selesai S1, mau S2, S3 dan seterusnya. Pertama..rasanya "LEGA" kemudian " GAMANG" kemudian "BOSAN" sampai menemukan kesibukan baru, tujuan hidup yang baru dan kita akan kembali 'HIDUP" Agar fase itu dilalui dengan nyaman dan aman, siapkanlah bekal duit sbeelum selesai sekolah. Semoga pesan ini ada manfaatnya, Hehehehe.

Jangan lupa jika "HIDUP = PRODUKTIF" :))

2015/03/29

"Trampolin Semesta..Don't Let Me Play Again With You!!!"

This sport of part of my
Playing trampoline like our lifes, up and down...


How’s my life…?

Stagnasi di satu titik selalu menjadi hal yang menyebalkan. Pikiran dan jiwa rasanya beku, semakin berat hingga pelupuk mata terpaksa mengatup. Tidur..? Sayangnya tidak…kalaupun iya, jauh dari lelap. Kepalaku terlalu penuh, hiruk pikuk seperti genderang yang ditabuh tanpa henti.
Kemarin, Tuhan sedikit memberi kejutan. Sesuatu yang tak pernah terpikir karena saya pun sudah membuangnya jauh. Saya memutuskan tidak ada celah tempat cahaya bisa masuk memberi jalan hingga saya memutuskan untuk berhenti saat itu, mengemas semua harap, khayal-khayal yang tampak menyenangkan. Saya pun lupa tentangnya.

Siang terik dan kami memutuskan untuk mencari sejuk di sebuah mall setelah tak ada rekomendasi tempat  lain yang masuk akal untuk sekedar duduk, membuka laptop, sedikit ngobrol dan mencecap kopi. Saya tidak berharap bertemu siapapun, hanya ingin duduk di sana, mendengar cerita dari sahabat saya yang cantik tentang hidupnya yang baru (dia baru saja menikah) dan menyelesaikan proposal yang harusnya sudah selesai sejak beberapa bulan lalu. Keinginan saya sederhana bukan? Hingga semesta ingin bermain-main.

Dia berdiri di sana, saya  bahkan bisa mengenalnya dari punggungnya. Hebatkan? Seseorang yang baru beberapa bulan lalu mengambil satu tempat di hati, dengan interaksi yang sangat minim, kisah yang berakhir bahkan sebelum dimulai. Dia berbalik saat saya dengan impulsif seperti biasa, meneriakkan namanya. Jika ada kamera saat itu, saya akan minta seseorang merekam perubahan mikro dari otot-otot wajahku. Hatiku yang seketika terbangun dengan semangat membara tergambar dari binar mata dan senyum lebar, sepersekian detik logika menegur untuk menurunkan harap, membuat ragu menahan ekspresiku. Saya tidak mengharapkan pertemuan ini. Sungguhhhh…!!
Kembali..jatuh cinta tanpa aba-aba, setiap cerita yang terus dituturkannya seperti dongeng yang kurindukan. Kehidupan yang mengagumkan, ide-ide spektakuler…bagaimana saya bisa menahan diri tidak menyukainya? Hanya beberapa jam dengannya membongkar tatanan hidupku yang rapi untuk beberapa minggu ke depan. Tapi..karena ini terlalu sayang untuk dilewatkan..tak ada salahnya untuk menikmatinya saja kan.

Hei kamu…saat tatap kita bertemu, lihat pupilku yang melebar…saat melihat wajahku, lihat senyumku yang sangat lebar hingga deretan gigiku ikut menampakkan diri..saat duduk di sampingku, lihat arah ujung kakiku, mereka menunjuk padamu. Saya memberikanmu tanda sebanyak itu. Sesuatu yang sudah ditetapkan semesta hingga saya melakukannya tanpa sadar. Sesuatu yang tak perlu dipelajari karena melekat dalam diri kemanusiaan setiap orang. Sesuatu yang rasanya tak perlu kuabadikan dalam kata untukmu memahaminya. Tapi…hampir yakin, walaupun saya menyangkalnya berulang kali, dia bukan tak memahaminya, dia tak mau mengetahuinya. Menganggap sesuatu tak ada terkadang lebih mudah dan jalan untuk hidup tetap berlanjut tanpa masalah baru.

Kupikir pertemuan itu sebuah petunjuk dari semesta, tapi ternyata hanya sesuatu yang menyela hidup. Mungkin semesta hanya ingin menggodaku. Terima kasih..rasa yang sepertinya sedang bermain trampolin, beristirahatlah jika sudah lelah. Turun dari sana, seka keringat yang bercucuran dan selesaikan tawamu. Bagian menegangkannya sudahi dulu, kembalikan hati ke jalan lurus.

Ingatkan saya untuk lari saja saat melihatnya suatu hari nanti. Semua ceritanya membuat kewarasan hilang selama berhari- hari. Jika saya masih memiliki energi untuk kembali ke trampolin yang baru saja kumainkan…mungkin saya akan menghampirinya. Jika saya sedang gila, saya akan menanyakan ini “ Yakin, tidak menyukaiku? Bukankah kita memberikan tanda semesta yang sama saat bertemu (walaupun  yakin, saya yang paling menunjukkannya)?”


Jangan berkata “tidak”, kumohon. Cukup berikan tawamu dan mari kita melupakan semuanya. You never hear me said something like that,coz I never said it. Deal!!!

2015/03/15

Let's Play!!

♕ MYSATISFASHION
Let's Play?? hehehehe
Haii..lama meninggalkan tempat ini, dan saat kembali ternyata masih tetap sama. Saya membayangkan seperti kamar tua di loteng yang debunya setebal 10 cm, menyambut di depan pintu sarang laba-laba yang dengan rapuh terseret di rambut. 

Saya sepertinya terlalu malu dengan tulisan saya yang terakhir, hngga saya berpikir untuk menutup blog ini, dan membuat yang baru. Kemarin, itu semacam pengakuan "cinta" yang tergesa-gesa hingga saya menyalahkannya untuk semua kecanggungan setelahnya.  But..you couldn't take back your act, so I accepted all of d' consequences and forgive my dumbness.

Saya sedang menikmati hidup..rutinitas, riuh redamnya, gelak tawanya. Tapi kapan sih saya tidak mensyukurinya..bahkan saat saya mengatakan ingin lompat dari balkon, atau menebak alasan apa yang bisa membuat saya berbaring di rel kereta menunggu rodanya melindas. Hahahaha...pikiran saya kadang agak aneh. Untungnya, itu semua hanya lintasan ide, datang dan pergi tanpa bekas. 

Saya belum berhasil menjalin hubungan yang benar-benar serius juga hingga saat ini. Mmmm..saya sama penasarannya dengan mereka yang terus bertanya. Menurut kalian..diantara berjuta umat di dunia, manusia yang lalu lalang itu..mengapa mereka yang melintas belum ada yang  percaya diri menarik tubuhku yang sibuk bersenang-senang, mengikatnya agar tak mampu berlari lagi. Biarpun saya meronta di hati dan pikir, dia tetap di sana meyakinkanku kalau hidup akan tetap baik-baik saja. Tidak cukup denga menepuk bahu, menyikut pingang, mencubit pipi atau bahkan hanya menyapa galau. All of us busy to make life, so need big crush to make us notice each other.

You..out there!! I just need you hold tight your confidence, keep your superiority complex  in front of me, show me that you're d' leader and i will give you all off my life...and please, give me my space even I'm with you coz I have had my big dream before we met. Is easy, isn't?

 


2014/05/31

Heart vs Logic...part 2?"

Untitled
Alphabet has 26 letters, so stay cool..
Last time I checked...matahari masih di sana, penuh semburat kuning terang. Jakarta masih macet dan kita masih membicarakan siapa presiden selanjutnya, Jokowi atau Prabowo. Aku simpulkan, semesta baik-baik saja, dan kita? I'm fine...you? We're still good, aren't we?
I could check the entire world but I confused how to check yours. I didn't have confident that I could wavering your world. Nope...

Aku bangun dan mendapati hati di sana, duduk manis depan tv, menonton berita pagi, menjatuhkan remah biskuit, beberapa menggantung di bibirnya, menyeruput teh hangat dan tidak memperdulikanku. 
Dia melakukannya lagi. Membuat kericuhan dan tidak menyelesaikannya. Dia menyebalkan. Jika Aku kehilangan teman karena perbuatan impulsifnya, Aku akan menguncinya dalam kamar mandi, tanpa lampu!!

Aku mulai memutari rumah, meletakkan tangan depan dada, di punggung, di kepala.
Apa yang harus kulakukan?
Apa Aku benar melakukan kesalahan?
Bagaimana mengetahui Aku melakukan hal yang benar?
Haruskah mencarinya? Alasannya?
Kalau iya, bagaimana mencarinya? Bertanya kabar, laku biasa?
Mengapa jadi sesulit ini?..hahahaha

Let's make it simple. I didn't do anything wrong, so I shouldn't feel guilty, worried, or ashamed. I just shared what I thought, I felt. Because, we're not live forever, I choosed to make him know it. Mmm..he catched me actually. I'm not good of being stalker. Heeee

But he promised. 
You...promised  me that nothing change. I just adore you that much, for this few days. I don't have courage more than this. This the spot, that I can still lift my head and laugh with you.
Actually, I just want to know, this day is like another day. The same world, same sun, and "same friend".
Sent me a letter, please. Not message..I want letter, with short story..? Would you? hehehe



 NB : I've been thinking that much, hahahahha


2014/05/30

Heart vs Logic..*lol

This is always happened haaahahaha...
Dia menggangguku seminggu terakhir ini. Ingatan yang datang entah dari mana. 
Aku menginginkan sesuatu hari itu, dan hati ku tiba2 menunjuknya. Setelahnya, Aku membayangkan diriku sedang berdiskusi dengan si Logika, saling menepuk jidat, dan mengerutkan dahi melihat keputusan yg dibuat hati. Kami berencana menguncinya dalam kamar gelap, menginterogasinya berhari-hari hingga memastikan jika dia tidak gila. Aku bahkan tak melihat satu jalan pun, atau penunjuk jalan, pertanda atau apapun namanya yang mengarah pada seseorang itu.

Hati ini kadang keterlaluan, bertindak tanpa menggandeng logika. Saat masalah datang, dia hanya akan mengkerut di sudut, menangis keras, membenturkan badan ke dinding, mengalirkan darah hingga tertidur lelah. Dan Aku, bersama logika yang akan terjaga sepanjang hari menjaga hati untuk tidak membunuh dirinya, memastikan dia bangun esok dan tetap ingin hidup. Kami yang akhirnya akan berlari keliling, mencari sudut, titik, tempat berdiri yang tepat untuk melihat apa yang benar, yang semestinya terjadi untuk meyakinkan hati, jika dia tak kehilangan apapun. Toh...kita memang tak pernah benar memiliki sesuatu. Semua milik Nya kan? 

Aku...akan menerjang badai, menghantam ombak walaupun tak tahu berenang, melompat ke dalam api, menginjak beling...seperti pemain debus, walaupun Aku tak tahu mantranya. Aku akan melakukannya..jika memang itu pertandaNya. Semesta menunjukkannya dan hati membacanya dengan benar. 
Aku seberani itu, kurasa. Setidaknya Aku memiliki tekad itu. 
Hahahahahha #eaaaaaa..

NB : jangan mencetuskan ide yang aneh2..errrrr

2014/04/29

Luv u Both...

Luv u both....mmmuaachh...

Ini..pose andalan Mama setiap foto berdua. Buat iri aja...hehhehee.
Orang tua ku mungkin tidak memiliki kisah cinta yang romantisnya meliuk-liuk, mendayu. Percintaan mereka khas romantisme dulu, berkenalan, berteman baik, menikah. Kata Mama, mereka tidak pacaran, hanya dua orang sahabat yang akhirnya memutuskan menikah. Itupun Mama tahu telah dilamar melalui surat dari Ayahnya. (Baca : kakek saya).

Kok Mama mau?...saya sering menanyakan ini.
Keluarga Mama termasuk orang yang di segani. Istilahnya, saat semua orang masih makan nasi jagung, Mama sudah makan nasi. Bapak termasuk yang masih makan jagung. Heee..
Kata Mama, karena Bapak jujur orangnya, selalu menepati janji. Bagi Mama ku, itu cukup untuk memastikan hidupnya akan tetap baik-baik saja di masa depan.

Saat ini, mereka menua dan tetap memamerkan kemesraan. Kadang terlihat lucu, tapi membahagiakan.
Ini kebiasaan Mama di rumah :
1. Tak ingin masuk kamar duluan, kalau Bapak masih asyik nonton. Mama akan tidur depan tv.
2. Selalu buat teh untuk Bapak, 2 kali sehari, pagi-sore, selalu menemani Bapak makan.
3. Jarang membantah.
4. Karena Bapak suka makan, Mama dulu rajiiiiiin banget buat kue, apa saja.
5. Memastikan anak2 dan rumah tak ada masalah.
6. Tidak pernah mengintip dompet Bapak.

Kata Mama, istri itu melayani suami, mendidik anak dan memastikan rumah selalu menjadi tempat pulang. Bapak memang tak punya alasan untuk aneh-aneh, istrinya dah keren kek gitu. Hehehee..
Bagi kedua orang tua ku, bahagia itu sederhana. Sesederhana waktu yang mereka habiskan bersama.

Luv u both, panjang umur dan sehat selalu....
Terima kasih untuk keluarga yang hebat...


2014/04/08

"Bad dreams..Go Away!!

I like to sleep without dreaming

Ada adegan dari drama yang saya tonton semalam, mengingatkan pada masa lalu. Ibu dalam drama itu, selalu mendapati anaknya yang sudah dewasa, tertidur di sampingnya. Hehehhe..saya dulu sering melakukannya.
Sejak SMP sampai kuliah...saya sangat sering mimpi buruk yang berakhir dengan ketindihan. Saat itu, orang tua saya percaya kalau itu adalah kerjaan setan, saya dituduh lupa berdoa sebelum tidur.  Tetapi karena setelah berdoa pun, saya tetap ketindihan...mereka berpikir saya disantet.  Semua poster di kamar, hiasan, dan foto dicabut. Boneka-boneka diberikan pada anak tetangga. Bayangkan, saya bisa mengalami ketindihan dua kali dalam semalam. Percaya...itu sangat melelahkan.
Pernah sekali, saya sudah kuliah saat itu, mengalami ketindihan. Biasanya, saya akan mengetuk kamar orang tua, tapi karena malam itu...Bapak baru saja datang dari luar kota, saya merasa sungkan harus membangunkan mereka. Akhirnya, saya menyusup ke tempat tidur si adek. Hehehe, saat pagi...si adek terbangun heran melihat saya meringkuk di tepi tempat tidurnya.

Sekarang, saya tahu...itu adalah *old hag atau gangguan tidur. Biasanya karena kelelahan, kurang tidur...fase tidur yang biasanya bertahap menjadi amburadul. Otak telah terbangun, tapi tubuh masih lelap, sehingga terjadi momen paralisis yang mengerikan. Jadi...saya tidak di santet ternyata. Heee...ketidaktahuan itu membuat saya kehilangan ikatan emosional dengan boneka. Seorang gadis bukannya harus punya kisah dengan boneka-bonekanya? Saya tidak...!

Hanya saja, se-berumur ini pun, saya masih merasa ingin menyusup ke tempat tidur seseorang setelah ketindihan. Seperti beberapa bulan lalu, saat saya terpaksa harus menginap sendirian di apartemen. Entah mengapa saya mulai ketakutan menjelang malam. Saya takut tertidur tapi sebenarnya sangat ingin terlelap. Walhasil..saya mimpi buruk, ketindihan dan terbangun dengan keringat mengucur. Saya menahan diri untuk menelpon ke rumah. Jam 2 pagi, siapa yang harus saya bangunkan. Akhirnya, saya memutuskan menelpon dua teman baik saya yang tinggal di tower sebelah. Tak ada yang menjawab tetntu saja...saya mengirimkan sms panjang, dan mengancam akan menggedor apartemen mereka jika ketakutan saya memuncak. Tak ada respon..tentu saja. Saya pun telah tertidur kembali.

Ternyata, mengetahui kebenarannya..tidak cukup menghentikan saya ingin menyusup ke tempat tidur orang lain.
Hahahaahhaahhaa...

2014/03/19

"Happy Wedding...Iriiiiii !!"

Converse
Nice shoes..
Dia...dia..dia..juga dia...akan menikah tahun ini. Gilaa...4 sahabat perempuanku di tempat yg terpisah mengabari dalam waktu yang berdekatan. Mereka berkonspirasi membunuhku dalam bahagia mungkin.
Hehehehe "Iriiiiii...??" I think so...
Tapi jangan meragukan ketulusanku ikut berbahagia dengan mereka. Bagiku...iri adalah bagian dari menikmati kebahagiaan orang lain. Seperti iri pada teman yang terpilih oral presentation di kongres internasional, atau teman yang baru saja dapat pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi.
Kalau tidak iri, berarti Aku gila, Aku bukan manusia. Aku makhluk culas yang coba mengingkari kemanusiaannya. Aku bukan mereka yang menyembunyikan iri, hingga tanpa sadar mendengki. Bersikap menyanjung tapi kesan menjilat. Aku mendoakan kalian dari tiap kekhusyu'an yang ku mampu.

Seorang sahabat yang mengabariku, malah mendoakanku sukses dalam sekolah. Mengatakan kalau dia iri padaku. Heee...dia mencoba menghiburku sepertinya. Saat kukatakan Aku yang harusnya iri, Dia menyangkalnya.
"Segala hal memiliki waktunya. Jika saatnya tiba, pasti akan sangat indah." dia menegaskan ini.
Entah mengapa, Aku merasa sangat menyayanginya saat itu.

Aku tau teman-temanku adalah saudaraku yang paling baik. Apapun yang mereka katakan, mereka ungkapkan karena menyayangiku. Pernah kutanyakan, apakah mereka benar ingin mendengar jawabanku saat menanyakan hal-hal "menikah". Seseorang menjawab, kalau itu hanyalah bagian dari basa-basi. Sama seperti, "Hai..Apa kabarmu?" 
Hanya saja...beberapa agak berlebihan. Menegurku, "Kapan menikah?"..."sudahlah, sama itu saja..saling menyelamatkan"..."makanya, jangan milih-milih!!", lalu menyelipkan tatapan iba menuduh. Oh my God!! 

Maafkan Aku jika sangat ingin melemparkannya sepatu dan mengatakan mereka membuatku ingin muntah. Ini sangat kasar, maafkan sekali lagi. Tapi mereka juga menyebalkan. Membuatku seolah tidak mensyukuri hidup yang kujalani. Seolah bahagia 'menurut mereka' adalah hal paling tepat. Ayolahhh..kalian bisa lebih baik dari itu!!

Aku menikmati hidup, melihat, mendengar dan mempelajarinya. Belum waktunya saja mungkin, merasakan bahagia yang itu. Tuhan menginginkanku menjalani bahagia ini dahulu. Aku mencintai setiap waktu yang kujalani, kalian?? Heee..mari saling mendoakan saja, itu lebih baik.

Anyway..untuk kalian, perempuan-perempuan yang kusayangi. Congrat'z..happy for all of you, from bottom of my heart. Mmmuuaacchhh..!! 

2014/02/04

"Find Your Own Home!"

Hahahahaha..don't believe this, you shouldn't have d' second one from d' first!!
Ini hari yang biasa bagiku, menemui klien di pagi hari. Walau sebenarnya Aku berharap masih menggeliat di tempat tidur saat ini.

"Hai...!" Aku menyapa mereka. 
Empat lelaki paruh baya menatapku ramah. Mata ku berkeliling di antara mereka, menimbang dari lagak dan laku, mencari siapa yang utama. Urusanku hanya dengannya. Dia tidak berdiri menyapaku seperti lainnya. Terlihat tak peduli dengan mengirit senyum. Tampaknya kutemukan dia. 

Aku memakai baju biru dengan bagian bahu yang terbuka. Rok pendek 1/3 paha dan sendal jepit. Padu yang seksi bagiku, ku rasa. Kami berkenalan dan dalam waktu beberapa menit seolah kami adalah teman lama. Aku tak akan menceritakan pada kalian dia siapa, dan apa pekerjaannya.  Aku pun tak pusing selama dia membayarku dengan layak. Kami mengobrol tentang banyak hal. Aku harus bisa mengimbangi segala topik yang diajukannya. Aku mungkin menonton berita dan membaca koran lebih rajin dari kalian. Itulah seni dari profesi ini. Kami bukan hanya teman yang memeluk dan membawa kenikmatan pada mereka. Kami tempat mereka menuangkan kisah dan kegilaan, ide absurd dan cabul yang tak diceritakannya pada istri, anak, sahabat. Dia pun satu diantaranya. Seorang suami pastinya, ayah, mungkin tokoh di daerahnya, pejabat teras. 

Aku menarik bangku ku agak jauh, agar dapat menautkan kedua kaki dan membuat lutut kami bertemu. Mereka sering menyukai pose tersebut. Sengaja kucondongkan badanku ke arahnya saat dia bercerita. Itu akan membuatnya merasa penting. Laki-laki selalu menyerah pada perempuan yang dapat meninggikan ego mereka. Walaupun kebanyakan diantara kita sebenarnya hanya berpura-pura. Aku telah mempelajari ini sejak lama. Mereka yang datang padaku dan kembali datang, menemukanku sebagai tempat dimana mereka bisa menelanjangi dirinya dari kulit hingga hati. Keterbukaan yang tidak memberikan konsekuensi. Kalian tahu, kadang lelaki menjadi pengecut. Stigma keperkasaan mereka membuatnya harus menjaga citra bahkan terhadap mereka yang terdekat. yang tercinta. Apa yang kurang dari istri mereka di rumah, yang menunggu di pintu, di dapur, di tempat tidur. Aku tak ingin berspekulasi. Tetapi aku yakin, mereka mencari apa yang mereka tak dapatkan di rumah. Mungkin Aku rumah yang sebenarnya. Aku adalah liang tempat mereka pulang, menanggalkan baju zirah dan beristirahat.

Tanpa kusadari kafe ini semakin ramai juga hanya tinggal kami berdua di meja. Aku mengundangnya ke kamarku, sekedar basa basi walau toh kami memang akan ke sana. Aku menghabiskan makan siang dan segera beranjak. Dia tidak mengikutiku, katanya akan menyusul. Hatiku tergelak saat Aku mengangguk mengiyakan. Kenaifan yang memuakkan. Itu kebiasaan mereka, tetap berusaha menjaga nama baik dengan berlaku baik dan mencuri kesan. Tak ingin terlihat berjalan bersamaku tapi ingin meraba setiap inci kulitku. Toh semua orang mungkin sudah tahu hanya melihat bagaimana kita bertemu, dari tatapan hingga gerak tubuh. .

Sebelum berlalu, kusempatkan menoleh pada perempuan di samping meja kami. Sejak tadi, dia tampak sibuk dengan laptop di depannya, sesekali mengangkat wajah dan menatap kosong ke arah kami. Dia orang yang harusnya sangat jelas menduga sesuatu. Dia melihat dan mendengar kami.  Aku tak menyukainya. Lebih mudah menerima mereka yang memandangku dengan geram dan menghakimi karena Aku bisa menertawakan kekerdilan hati dan kepicikan mereka, dibanding mereka yang menatapku kosong. Tak ada pembenaran atau penyalahan di matanya. Dia membuatku gugup. Seperti seorang sutradara yang sedang memetakan aktor-aktornya, menarasikan alur, menata tempat dan waktu. Dia tidak menilai baik buruk aktornya. Dia hanya sibuk merangkai kisah, menempatkan mereka di dalamnya dan membiarkan permainan berlangsung. Dia mengambil kendaliku. 
Kuberikan tatapan tajam, berharap dia mengalihkan matanya padaku. Tapi...beberapa puluh detik, dia masih menunduk, menatap jemarinya yang berloncatan di atas keyboard. 
Aku yakin...itu cerita tentangku. F***!!


NB : Aku perempuan di samping meja, yang menatap kosong karena pikiranku sibuk menyusun kata untuk tesis. Hehehehee..Terima kasih untuk cerita siang ini.