2012/11/26

"You're my spongebob...!!"


Dia lagi-lagi memarahiku, kali ini lewat pesan singkat yang bertubi. Kami punya kebiasaan buruk, saling menanyakan kisah cinta, pria di hidup kami, rasa kami, dan how's life? Aku akan senang mendengar ceritanya yang panjang, penuh kelokan, berulang di plot yang sama, menanyakan hal yang sama berulang dan menjawabnya sendiri di akhir. Saat giliranku bercerita, Aku akan diam tanpa gerak, menyamarkan rasaku dengan emoticon senyum yang akan di balasnya dengan omelan panjang. Dia sangat cerewet, pikirku sambil membayangkan mencubit pipinya, menarik sejumput rambutnya dan membiarkannya mengejarku. 

Dia pernah menutup telfon hanya karena Aku menyukai pria yang tak disukainya. Dia pernah mengancam akan marah padaku seumur hidup jika meneruskan ide gilaku menikah dengan pria yang baru saja datang dihidupku. Saat Aku datang padanya dengan menangis di akhir semua cerita, dia mengelus hatiku dengan kata-kata menyalahkan. Teman yang aneh, bukannya tugasnya untuk memberikan kata manis dan membuatku berhenti menangis?

"Jangan tutup dirimu...!!!" katanya dengan semangat
"Kalau Aku tidak menutup diri dan menikah duluan, gimana?" Aku menggodanya
"Ku ketok kepala mu kalau menikah duluan"....dan kami tertawa.

Setiap kisah cinta kita adalah pilihan, menyadarinya membuat semuanya lebih mudah dijalani. Kebahagiaan dan kesedihan tak memiliki bentuk yang jelas atau garis batas yang pasti. Semuanya tergantung pada kita yang mengisahkan dan memutuskan bentuk rasanya, apakah sedih atau bahagia. Tidak berarti cerita yang tidak biasa adalah salah, dia hanya cerita yang tidak umum dijalani atau didengar oleh banyak orang hingga mereka akan terus bergunjing karena tak punya pengetahuan tentangnya. Itulah tugas orang banyak, terus mengkritik dan mengingatkan tapi tidak menentukan bagaimana kita menjalani hidup. So...just give a shoot, at least u will know how is d' feel.



NB : Memelukmu dari jauh sayang ^_^


2012/10/30

I thought..i'm nerd :')

Tarikan gravitasi pada mataku kali ini sangat berat, sangat ingin mengatup, sumpah!! Hanya saja, tidur di perpustakaan bukan pilihan tepat, pulang juga tidak mungkin karena kuliah siang. Lagipula Aku lagi manik, adrenalinnya masih banyak untuk terjaga dan memamerkan senyumku. (Aku 'bis bertemu Kepala Sekolah..always manic after that, heee)  Aku belum tidur sejak semalam, seperti kebiasaan sejak SMA yang juga belum hilang. Terlalu takut memejamkan mata jika besok ada ujian atau harus mempresentasikan sesuatu. Kurasa, Aku sedikit perfeksionis. Beberapa fakta, Aku tak suka agenda tambahan sebelum jaga di rumah sakit, tak suka jadwal jaga yang tiba-tiba, sebelum keluar rumah bisa ganti baju lebih dari dua kali, juga catatan tambahan dalam buku ditulis dengan pensil, bukan pulpen, tak ada stabilo. :) I'm little nerd, am I?

Hari ini Aku maju presentasi referat I (baca : tinjauan pustaka) di Paru, sepanjang malam membaca ulang semua jurnal, berdiri di depan cermin lalu berceloteh, menyusun kata-kata yang tepat,  memikirkan akan menggunakan baju apa besoknya. Fiuhhh...lebaaaai mungkin, tapi tak melakukan sesuatu juga membuat rasa bersalah membunuhku pelan-pelan. Aku memahami segala sesuatu harus diusahakan maksimal, masalah hasilnya baik atau tidak adalah urusan nanti, yang utama adalah prosesnya.

Hasilnya...Aku cukup bisa tertawa lebar, walaupun kantung mata menandakan kelelahan. Guru-guru ku memberikan reward yang bagus, dan itu menyenangkan. Terbayar koq persiapan dua bulan, dan tidak tidur semalaman. Terima kasih.

NB : Terima kasih untuk semuanya :), Kepala sekolah.... u have to watch me next time !! ^_^

2012/10/17

"Maaf...!!"

Kemarin Aku mengakhiri suatu ikatan, bentuk hubungan yang harusnya sudah kujalin dan kujaga dengan erat  saat ini, maklum umur semakin dewasa, heeehe. Aku ingat bagaimana dia bertanya padaku,"Apakah tak menyayangkan proses yang telah berjalan?" Ku jawab dengan gelengan kepala. Aku pun tak yakin...tapi bagiku proses adalah jalan untuk mengambil sebuah keputusan, tak akan pernah sia-sia, apapun hasilnya. 

Kebersamaan yang ada kemarin, adalah nyata dan berharga. Aku pun tidak menafikannya. Bahkan keputusan untuk berpisah pun adalah proses. Mungkin hidup ini semuanya proses, satu keputusan menjadi awal proses untuk keputusan yang lain. Dia bukan hidup yang terhenti, tapi hidup yang mengalir. Aku minta maaf untuk hati yang belum menemukan keyakinannya. Aku pun tak berani memintanya menunggu, kecuali dia yang menginginkan dirinya menunggu. Maka pergilah, dan doaku untukmu. Aku tak mungkin melangkah tanpa keyakinan, karena itu bukan hidup untukku. Maaf...^_^

2012/09/30

"...Just move!!"

Aku tak pernah lupa cara dia mengusap kepalaku, mengacak rambutku yang berantakan. Biasanya Aku akan merengut kecut tapi jika lihai, orang dapat melihat tarikan halus di ujung bibirku yang menyembunyikan bahagia. Dia selalu menyerap semua kata yang kumiliki, hingga berhadapan dengannya Aku menjelma gagu dan hanya bisa menatap, padahal Aku bisa bercerita sepanjang hari, dengan tubuh yang ikut bergerak seiring ocehanku yang tak henti. 

Kalian tahu, Aku selalu ingin terlihat sempurna dari ketidaksempurnaan yang kuperlihatkan padanya. Meyakinkan diri jika rasaku yang meluap adalah imbas dari rasanya yang memelukku tiap saat. Kami saling menyukai, bahkan penjual gorengan di ujung lapangan kampus pun dapat melihat binar dalam tatapan kami. Dulu.

Saat ini, seketika Aku kembali gagu, saat seseorang  mengusap dan mengacak rambutku. Ingatan tentangnya menarikku paksa ke masa lalu, hadirkan rasa yang absurd tapi tak dapat kuhindari. Kami tak lagi berjalan seiring, sejak lama. Saat Aku seolah meninggalkannya, dan dia meninggalkanku pasti. Yupp, dia benar-benar pergi, memutuskan menikah, tak berbalik untuk melihatku tetap berdiri di tempat ini. Aku selalu merasa berlari, setidaknya mencoba berpaling, tapi saat melihat sekeliling ternyata Aku tak juga bergerak. Rasa ini tak mengasihaniku. Aku sangat ingin beranjak, sungguh. Tidakkah Aku seperti hantu gentayangan yang beterbangan antara langit dan bumi? 

Harusnya Aku berusaha kembali, meminjam raga untuk menuntaskan yang tersisa. Mungkin benar jika mencarinya, menyelesaikan kisah kami, merangkai kata penutup dan ucapan terima kasih yang melegakan. Sebuah pengakuan, jawaban, pengesahan untuk cinta yang kuyakini untukku. Bahkan jika dia mengatakan tak mencintaiku, setidaknya tak ada lagi tanya, sisa-sisa harapan itu dapat menguap sempurna, dan Aku dapat membangun mimpi yang baru.
Kalian...berdoalah untukku!! 


*terinspirasi dari kisah seorang teman. Don't u think, u have to move on???!!! (pukul jidat)

2012/09/28

"We and Our Patients"

Dua hari ini terjebak dalam adiksi "drama korea", tidur larut dan bangun telat, hanya terinterupsi dengan shalat dan makan. Aku sama sekali tidak menyentuh bahan-bahan kuliah padahal dikejar deadline 'referat' dan jurnal. Haaaa..merasa bersalah tapi tak sanggup menolak. Hehehehe
Drama itu , "Time Slip dr. Jin" bercerita tentang seoang dokter bedah saraf yang entah mengapa tergelincir ke masa lalu. 
*lupa sumbernya, silahkan di klaim

Menarik, karena dokter itu malah bertemu  berbagai kasus yang membuatnya harus melakukan tindakan medis dengan peralatan purba, selain itu menemukan berbagai obat yang dalam sejarah belum ada pada masa itu. Krisis psikologi banyak terjadi dalam hal etika dokter dan pasien, apakah harus menyelamatkan pasien yang kemungkinan bertahan hidupnya kecil, atau menyelamatkan pasien yang sudah jelas akan menyebabkan kerusakan besar di masa depan. Berbagai hal dalam drama tersebut mengingatkan pada pasien-pasien yang Aku rawat di bangsal kemarin. 

Satu diantaranya yang selalu membuat kesedihan tak lepas saat mengingatnya adalah seorang anak perempuan, 14 tahun, dengan diagnosis TB Milier. Aku mencoba menanganinya seperti yang seharusnya, memberikannya obat Anti Tuberkulosis, yang terpaksa harus dititrasi karena fungsi hatinya ikut terganggu. Akibatnya, kuman TB yang sudah mengalir dalam darahnya hanya tergelitik, bukannya mati karena dosis obat tidak cukup untuk membunuh mereka. Kondisinya semakin parah, sesak yang terus bertambah, disertai emfisema subkutis di bagian leher. Berdiri di samping tempat tidurnya, memegang tangannya dan tersenyum, jadi salah satu ritual yang kulakukan tiap mengunjunginya, berharap obat yang kuberikan setidaknya mengurangi penderitaannya, berharap Tuhan menolongnya, memberikan lebih banyak kekuatan pada tubuhnya untuk melawan kuman-kuman TB itu. Percaya padaku, hal yang paling menyiksa adalah melihat mereka menderita dan tak bisa melakukan apapun, saat semua usaha sudah dilakukan, dan penuh harap Tuhan menyelesaikannya dengan baik.

Aku berjanji padanya akan membelikannya makanan yang paling dia inginkan, apapun itu jika dia sembuh nanti. Biasanya dia tersenyum dan berusaha tertawa diantara semua kesakitannya, demam yang tak juga turun, sesak yang tak membaik. (menulis ini saja membuat air mata menggenang hee)
Sehari sebelum dia meninggal, Aku menemaninya dalam kamar operasi karena  emfisemanya meluas sampai ke mediastinum sehingga kemungkinan menekan jantung dan mengganggu ritme jantung, menyebabkan takikardi. Awalnya, dia merengek karena ingin Ibunya masuk dan menemani, tapi saat kukatakan ada Aku yang akan menjaganya, dia akhirnya bersedia. Dia sempat bertanya padaku sebelum dilakukan mediastinostomi (operasi kecil oleh Bedah Toraks untuk mengeluarkan udara di mediastinum), apakah setelah ini dia akan membaik, mengingatkanku untuk tidak melupakan janji padanya saat dia sembuh nanti. Aku hanya mengangguk, merangkul bahunya dan berdoa dalam hati untuknya.
Dia meninggal keesokan harinya, saat itu hari libur dan Aku tidak dinas. Dokter jaga mengirimkan kabar tentang dirinya. Aku tahu kondisinya buruk, dan apapun yang terjadi adalah takdir dan jalan yang terbaik untuknya. Hanya saja, Aku tak dapat menahan kesedihan, membuatku terisak sejadinya. Aku berangkat ke rumah sakit tapi hanya mampu berdiri di seberang jalan rumah sakit, tak punya keberanian untuk menemui orang tuanya. Aku takut tak dapat menahan diri di depan mereka, kami dokter hanya boleh berempati, bukannya bersimpati. Aku berakhir di Dunkin dengan seorang teman yang cukup tahu diri, membiarkanku menangis tanpa niat menginterupsi. 

Saat-saat seperti itu, membuat berbagai keraguan hadir, apakah pasien itu memang harus meninggal, apakah penanganannya sudah tepat, apakah usaha kami sudah maksimal, dan berbagai alasan yang akhirnya saling menyambung dan berharap logika dan pengetahuan memberikan jawaban yang setidaknya dapat mendamaikan hati. Aku yakin semua dokter pernah merasakan hal ini. Kami ini manusia dengan satu kaki berpijak di surga, dan yang lain berpijak di neraka. Profesi kami memang cukup mengerikan dan hidup kami susah. ;)

Seorang guru kami, dr. Elisna Syahruddin Sp. P (K) di suatu pagi, pernah menegur kami karena jarang memasukkan ucapan terima kasih kepada pasien-pasien dalam sebuah tesis. Bahwa mereka bukan sekedar orang sakit yang datang meminta pertolongan, tapi mereka adalah Guru terbaik bagi kami. Aku punya banyak kisah tentang betapa seorang pasien dapat mengajarkan banyak hal, dan sampai hari ini Aku tak hentinya meminta maaf pada mereka untuk segala salah yang mungkin kulakukan, bahkan maaf untuk senyum yang kadang tak sanggup kuhadirkan saat menemui mereka karena kelelahan selepas jaga.

Drama itu, mengembalikan ingatan tentang mereka, menegur rasa kemanusiaan yang mungkin terkikis oleh rutinitas. Dunia kami, sering bergerak secara mekanik hingga kami terlatih tersenyum seperti senyum palsu Pramugari. Aku sendiri berharap tak pernah lupa kalau dalam hidup ini, setiap gerak memiliki makna, agar tetap bisa memanusiakan diri dan orang lain.


*terima kasih