2012/09/22

I call them "friends"

Satu hari kadang merasa ingin memeluk semua orang dan berterima kasih. Anak kost-an yang jauh dari rumah seperti ku, selalu menjadi melankolis tiap menerima kebaikan orang. Aku bahkan ingin memeluk Bapak yang menyapu jalanan di depan rumah kost an. Heee, aneh !!

Seperti kemarin, saat hari ku agak kacau, dan kuputuskan me-refresh mood. Aku memiliki kebiasaan mengunjungi sebuah cafe di daerah Cikini, sekedar duduk dan mendengarkan sebuah band bernyanyi. Itu gambaran umumnya sih, sebenarnya Aku mengunjungi salah seorang di sana, menikmati rasa suka ku padanya yang hanya akan berlangsung semalam itu. Aku pernah ke tempat itu saat mereka tidak bernyanyi, atau band itu bernyanyi tapi tanpa dirinya, dan Aku menemukan ada sesuatu yang kurindukan. So I make conclusion that may I need him, just to be my "mood booster". Eitsss..Don't try to make any conclusion about us, might u wrong for everything in ur mind. (Aku sering menceritakan tentangnya di beberapa tulisan kemarin...). 

Nah, sulitnya adalah mencari teman yang ingin duduk bersamaku di sana, dan mengerti kegilaan ku. 

...lalu ternyata ada mereka yang mau menemaniku, dan itu menyenangkan. Mereka adalah beberapa teman yang sangat baik. Aku tak tahu apa yang melekatkan kami, kebiasaan karaoke yang hampir tiap minggu kami lakukan atau hal lain. Apapun itu, Aku selalu mensyukuri mereka mau mengulurkan tangannya dan membagi senyum untukku. Kami...berputar bersama dalam rutinitas sebagai Residen di RS, datang pagi awal, beberapa mengunjungi pasien sebelum mengikuti kuliah pagi dan menjejali kepala kami suka atau tidak dengan berbagai pengetahuan ilmiah. Ada banyak kisah tentang kami, tentang rasa yang berputar di antara tawa dan tatapan yang ada. Tapi, Aku harus menahan diri dulu untuk menceritakannya di sini, mungkin menunggu kisah itu menemukan akhirnya. ^_^
dari : Bang Hario, Yuki, Arum, dan Aku

....dan akhirnya Aku berharap mereka menikmati malam itu, sepertiku. Mungkin saja "mood booster" kami berbeda, tapi rasa senangnya Aku harap sama, atau setidaknya kami dapat saling menularkan bahagia.


*boleh di peluk kakaaaakk...^_^





"Married...??!! soon..


Pernah merasakan dirimu di penuhi cerita yang sangat ingin menumpahkan diri dalam tulisan tapi kata-kata yang kau miliki seperti tak cukup untuk menampungnya? Aku merasakannya saat ini, seperti orgasme yang penasaran sampai ke ujung kaki, membuatmu tak dapat bergerak hanya mematung dan menatap layar putih yang masih kosong kebosanan. Sepertinya puncak kerumitan adalah kekosongan, mirip ajaran Budha (terinspirasi dari Gurunya Sun Gokong)..kosong itu berisi, dan berisi itu kosong. Heeee,tambah bingung yah?


Seorang temanku menikah hari ini, beberapa akan menikah bulan depan, dan yang lain menikah tahun depan. Aku, sampai hari ini masih harus menghadapi telpon dari Mama tersayang yang tak pernah sepi dari usaha perjodohan. 
Heee, kadang ingin kesal bila semua orang bertanya "Jadi, kapan nikahnya, tuh liat...dia aja dah nikah!"...Ngooookkk, jadi maksudnya karena dia dan dia, juga dia menikah, Aku harus ikut menikah? Kalau "suami" seperti milih jeruk di pasar, cari yang kulit dan warnanya bagus, bawa pulang sekilo, kelupas dan cicipi, jika manis pasang wajah senang, jika tidak langsung di buang ke tempat sampah, mungkin Aku sudah menikah berpuluh-puluh kali, bersamaan dengan musim Jeruk. 

Ku pikir belum jodohnya mungkin, toh Aku tak punya jawaban lain. Salah siapa jika Aku belum jatuh cinta, atau jatuh cinta tapi waktunya tak tepat, atau jatuh cinta tapi orangnya tak tepat. Aku kan tak harus meraung kesetanan, menghujani Tuhan dengan air mata, menuduh ketidakadilan tanpa bukti. (hakhahaha...ni pake emosi nih nulisnya).

Aku mempercayai takdir bergerak dalam kuasa Tuhan dan pilihan manusia. Aku harus memikirkannya dengan baik, mendengarkan suara hati untuk memilih wajah siapa yang akan kulihat tiap terbangun di pagi hari nantinya, berharap bimbingan Tuhan menuntun seluruh diriku untuk memilih. Aku membutuhkan kesadaran itu agar bisa menghadapi hal terburuk yang mungkin terjadi, bukannya nanti malah terpuruk dan menyalahkan takdir, atau berputus asa dengan kedok pasrah menerima takdir tetapi dalam hati mengutuk. 

Menikah...memikirkan tanggung jawabnya saja membuat mau gila, merinding sampai menggelinding memeluk dinding. Itu bukan hanya urusan 'ngangkang' trus bunting dan punya anak. Kita berurusan dengan tanggung jawab sebagai hamba, kata teman baikku untuk "meneruskan kekhalifaan"...dengan kata lain, kita harus memiliki kapasitas untuk menanamkan nilai-nilai yang benar pada anak-anak yang akan dititipkan Tuhan. Tidak mungkin kita memilih dengan buta, langsung mengangguk pada tiap rasa yang menggedor-gedor hati. Bayangkan saja di depan Tuhan nanti, kita di lempar dengan ringannya ke dasar Neraka karena dianggap gagal menjadi orang tua. (Agak berlebihan mungkin penggambarannya). 
Lagipula, kita juga harus memiliki keikhlasan yang luas untuk mentoleransi segala hal nantinya,agar hubungan yang ada tetap terjaga dengan utuh, dan itu hanya dapat terjadi jika kita "Jatuh Cinta"...maksudku harus ada kesadaran yang tinggi untuk mencintai, biar maaf selalu hadir untuk tiap kesalahan. 

Heee, kata temanku, Aku agak berlebihan. Mungkin juga sih, tapi...Tuhan menghukumi kesadaran kita bukan? Kesalahannya bisa lebih berat jika kita berpura-pura tak memikirkannya, atau tidak mencari tahu padahal memiliki potensi untuk mengetahui. (Aku mulai rumit nih...hehehe)

Intinyaaa...untuk kita yang belum menikah, jangan terjebak pada keinginan publik. Toh hidup adalah milik kita sendiri, menjalaninya adalah pilihan kita dan yang merasakannya juga kita sendiri. Make ur right decision and through it with all happiness that u can reach.

*Mom, Aku sedang berjalan ke sana koq, don't worry too much ^_^ 


2012/06/20

@ikhlaskan

*silahkan di klaim gambarnya, lupa sumbernya


"Can I get him one call?"...terbentuk genangan air di sudut matanya
"For what?"..ku berikan selembar tissue padanya.
"I don't know..just wanna call him"..isak pelan memainkan nadanya
"You can't..you SHOULD NOT call him"...ku katakan dengan tegas. Ingin rasanya melempar kepalanya dengan bantal, atau menyiraminya dengan air dingin. Aku bosan melihat wajah lesunya yang sepanjang hari menularkan kemuraman.
"I miss him...."..isaknya semakin bernada tinggi.
"He didn't miss you!!" ku bisikkan di telinganya. Dia menunduk, membiarkan air matanya berjatuhan di atas bantal.
"You can't call him, not for him..but for you. You know that it will be more difficult for you, if you miss him again in another time. Please..stay with your rasionality, even you need one years to feel comfort, just try to pass it," Aku memeluknya erat.


...cerita di suatu sore

Menemukan tulisan ini dalam draft blog, dan berakhir dengan perut sakit karena tertawa. Ini kejadian entah kapan, tapi aku tau saat itu Aku sangat merindukan dia. Tulisan ini dibuat untuk menguatkan hati, yang mengiba sepanjang hari dan membuat kepala sakit. Akhir cerita, Aku menelponnya beberapa hari kemudian, saat rasionalitasku terjaga baik. Tak ada air mata di sana. Aku merindukannya tapi tidak lagi menginginkannya, toh Aku tak pernah memilikinya, harusnya Aku tak kehilangan. Dia milik Tuhannya, dan Aku milik-Nya juga. Kita semua tak pernah benar memiliki, hanya Tuhan yang memiliki. @ikhlaskan 

2012/04/08

"holding on or letting go"

Lama tak mendengar kabarnya sejak terakhir Aku bercerita, kalau Aku sepertinya akan pergi.

Kukatakan, Aku benar menyayanginya, melepaskan semua ikatan dan membangun dunia kita sendiri, dulu. Aku menyusun mimpi yang meninggalkannya sesulit Aku menolak novel berkualitas, atau film dengan sejuta penghargaan (itu dua hal yang sangat menggodaku ). Aku ingat setiap waktu yang ku hujani tangis, terbangun dengan kepala sakit tanpa niat membuka mata, berangkat kuliah dengan mata sembab, menunggu penjual nasi goreng dengan air mata yang berjatuhan.

It's too much for me and getting kill me day after day. Itu hari yang melelahkan. Menahan hati dan rinduku, menjaga rasionalitas tetap di tempatnya, menguatkannya tiap hari. Aku menyimpan rasa itu, masih di sana.

Aku bukan orang yang membuang dan menyesali masa lalu. Itu sama berharganya dengan masa kini, atau nanti. Dia tetap di sana, kami tetap ada, tapi kali ini dengan rasa yang lebih benar. Aku hanya berubah bentuk saja dan percaya kita berdua akan menjaganya.

Terima kasih, dengan sayang yang sama^_^

2012/01/11

"Laugh d' life.."



11hari pertama tahun ini,

Awal tahun, dan Aku sedikit gila dengan sisa-sisa tahun kemarin, belum lagi tugas baru yang berjatuhan...menimpuk...menohok dengan keras. Arggghhhh...

Beberapa hari ini, Aku dan temanku melakukan sedikit refleksi...mengapa kami menjadi dokter??

Ini pertanyaan yang telah kuajukan saat tahun pertama Coass, ketika sistem mulai menunjukkan taringnya dan menertawakan kegalauan kami. Ini kegelisahan lama yang kami maklumi untuk kesering kalinya, hingga dia mengendap, dan kami pun menyelesaikan Coass, di panggil Dokter, punya ijin praktek dan kartu keanggotaan IDI.
Membuka warung dengan Papan Praktek di depan rumah untuk beberapa saat, dan tuntutan sistem kemudian menggiring kami untuk sekolah lagi.

Aku...salah satu makhluk yang tergiring dan kini menjalani wajib militer sebagai Residen Paru. Heee

Sebenarnya, kagalauan itu di picu oleh tumpukan kemalangan yang akhir-akhir ini kami derita. Beberapa temanku bahkan berdebat memperebutkan siapa yang lebih malang, apakah dia yang selalu mendapat jaga (baca : semacam piket untuk menjaga bangsal-bangsal di rumah sakit selama kurang lebih 12 jam) di Bangsal Infeksi yang pasiennya paling banyak dan mortalitasnya lebih tinggi, atau dia yang selalu mendapat jaga akhir pekan dan tidak sempat untuk liburan.

Kami juga mengeluhkan ketidakjelasan nasib Ujian Faal yang tak juga selesai, sehingga kami bergentayangan di perpustakaan sepanjang hari, menanti panggilan ujian yang tak jelas waktunya. Tak ujian berarti penundaan stase selanjutnya, yang berarti menambah waktu wajib militer..Hikss.

Di tengah ketidakjelasan nasib itu, kami pun di hujani dengan cerita-cerita horor tentang Stase kami selanjutnya.."Stase Ruangan" (baca : Stase saat kami mulai menangani pasien secara langsung dan personal ). Kami memasuki arena pembantaian massal, berdiri di depan semua penghuni barak, menunggu berondongan peluru dari para Jenderal untuk tiap kesalahan dari presentasi kasus, laporan kematian, ataupun presentasi jurnal kami.

Haaa..membayangkannya saja, cukup menyiutkan nyali untuk terbangun esok hari dan menyadari...kami masih di tempat ini.

Aku dan temanku sangat iri pada pemain musik, ataupun penyiar TV, wartawan atau siapa saja yang kami anggap sukses tanpa harus bersusah-susah menjalani wajib militer seperti kami..toh akhirnya tetap sama, jadi "orang sukses".

...dan mengapa Kami tetap menjadi Dokter?? Untuk menjadi sukses, punya banyak uang...atau alasan klise.."untuk menolong sesama?"

Kami tak tahu..atau Aku sendiri tak pernah tahu. Ini adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup yang tak dapat lagi kutemukan alasannya, hanya membiarkannya mengalir, menyingkirkan kerikir yang menghalang, bangun tiap kali terjatuh, menggedor pintu lain jika lainnya tertutup..dan tanpa terasa kami pun di sini.

Apapun badainya di malam hari, pagi akan tetap datang. Sistem yang kami masuki pada akhirnya akan mengantarkan kami di akhir, dan menitipkan tawa dalam tangis haru untuk keberhasilan kami tetap hidup saat itu.

Jangan salah paham, kami bukannya menyesali jalan hidup. Ini hanya semacam cara untuk menertawai hidup, kami yang menyadari keberanian untuk memilih ini meskipun sangat sadar akan kemampuan kami untuk pergi. Pada akhirnya, bagi ku..bagi kami..hanya berusaha untuk terus bertanggung jawab atas pilihan Profesi ini, sesekali menangisi kegilaan dan menertawai kegalauan kami.

Dunia kami sangat luar biasa, akan sangat sulit untuk menggambarkan dinamika kemanusiaan yang berputar di dalamnya. Kami hanya alat yang menggenapkan takdir terpenuhi.

Kami belajar dari hidup dan mengembalikan pengetahuan pada hidup.

(Doakan kami...^_^)

NB : Nina Aboet...dan yang lain..semangaaaattt!!!