2013/06/10

"..Yakin Masih Ingin Jadi Dokter??"

Foto_12217_f34fe44341251a2208e4952e0f0e5462_jpg_large
My fav doctor's profile

Selalu ada saat saya benar-benar tidak ingin menjadi dokter. Saat harus menangisi seorang pasien, saat sistem pendidikannya terasa tak adil, saat senior begitu menjengkelkan, dan saat harus menghadapi ujian. Ini semua selalu membuat saya ingin melompat dari jendela. (Hanya memikirkannya saja…hehehe). 

Saya sering mengatakan kalau punya anak nanti,  mereka tidak akan pernah saya sarankan untuk menjadi dokter. Ini profesi yang terlalu berat jika dijalani dengan benar, atau dipikirkan dengan seksama. Bukan sekedar memakai jas putih, menenteng stetoskop, berkoar-koar menasehati pasien, menulis resep. Filosofi dibaliknya lebih dalam sebenarnya dibandingkan hal-hal teknis tersebut.

Kemarin saya mendapat shift jaga di rumah sakit, ini salah satu bagian dari pendidikan dan pengabdian tentunya. Salah satu pasien yang saya terima tiba-tiba memburuk di malam hari. Tak ada satu pun keluarga yang menjaga saat itu. Kondisinya sebenarnya sudah membaik saat saya pertukaran jaga. Saya sudah menangani kegawat daruratannya saat itu berdasarkan gejala yang saya temukan dan pengetahuan saya.  Hanya saja sampai saat saya off, saya masih belum dapat menemukan alasan mengapa kondisinya tiba-tiba memburuk. Kita semua tahu, segala hal yang terjadi di tubuh kita, adalah rangkaian reaksi yang saling terhubung, dan mengetahuinya membuat kita dapat memahami sebuah gejala dan menemukan cara mengatasinya. Tim jaga saya yang lain pun tak dapat memberikan jawaban. Mungkin karena kami masih membutuhkan bukti-bukti yang lain, seperti hasil lab dan sebagainya, atau ada hal yang luput dari perhatian kami. Disinilah doa bekerja. 

Sehari kemudian, saya baru tahu kalau pasien tersebut meninggal. Kondisinya sempat membaik, dan tim jaga setelah saya sudah menemukan penyebab sebenarnya, penanganan yang seharusnya pun sudah dilakukan. Tapi, kembali lagi kalau ajal adalah takdir yang sudah ditetapkan. Pasiennya mengalami aspirasi makanan, saat itu kemungkinan makanan yang dia makan masuk ke dalam saluran pernapasan, menyumbat di sana dan dengan segera membuatnya tak bisa bernapas. Hal ini memang dapat mematikan dalam sekejap.

Saya menjadi marah pada keluarga yang memberinya makanan, marah pada pasiennya yang merokok 10 bungkus/hari, marah pada tim jaga saya, marah pada diri saya sendiri, marah pada pengetahuan dan pengalaman saya yang sepertinya belum cukup untuk menyelamatkannya, dan seandainya dibolehkan, saya pun akan marah pada Tuhan yang tidak memberi petunjuknya saat itu, yang tidak menjaga pasiennya. Ini hal yang sanagt bodoh sebenarnya, tapi saya benar-benar marah dan depresi untuk beberapa hari.

Large
He said.."everybody lies"
Saya ingin mengatakan pada masyarakat, jangan menganggap kami terlalu berlebihan, kami pun hanya manusia biasa. Dokter adalah sebuah profesi. Kami hanyalah perpanjangan tangan dari Pencipta. Bekerja samalah dengan menjaga hidup kalian dengan lebih baik dan banyaklah berdoa. 
Saya meyakini sesuatu, jika seorang dokter benar-benar memahami profesinya, dan tidak memiliki mental yang kuat, maka dia pasti akan menjadi gila. Saya sepertinya….sedang menuju ke sana. Heeee

*Saya minta maaf dan berdoa untukmu…L



Tidak ada komentar:

Posting Komentar