2012/06/20

@ikhlaskan

*silahkan di klaim gambarnya, lupa sumbernya


"Can I get him one call?"...terbentuk genangan air di sudut matanya
"For what?"..ku berikan selembar tissue padanya.
"I don't know..just wanna call him"..isak pelan memainkan nadanya
"You can't..you SHOULD NOT call him"...ku katakan dengan tegas. Ingin rasanya melempar kepalanya dengan bantal, atau menyiraminya dengan air dingin. Aku bosan melihat wajah lesunya yang sepanjang hari menularkan kemuraman.
"I miss him...."..isaknya semakin bernada tinggi.
"He didn't miss you!!" ku bisikkan di telinganya. Dia menunduk, membiarkan air matanya berjatuhan di atas bantal.
"You can't call him, not for him..but for you. You know that it will be more difficult for you, if you miss him again in another time. Please..stay with your rasionality, even you need one years to feel comfort, just try to pass it," Aku memeluknya erat.


...cerita di suatu sore

Menemukan tulisan ini dalam draft blog, dan berakhir dengan perut sakit karena tertawa. Ini kejadian entah kapan, tapi aku tau saat itu Aku sangat merindukan dia. Tulisan ini dibuat untuk menguatkan hati, yang mengiba sepanjang hari dan membuat kepala sakit. Akhir cerita, Aku menelponnya beberapa hari kemudian, saat rasionalitasku terjaga baik. Tak ada air mata di sana. Aku merindukannya tapi tidak lagi menginginkannya, toh Aku tak pernah memilikinya, harusnya Aku tak kehilangan. Dia milik Tuhannya, dan Aku milik-Nya juga. Kita semua tak pernah benar memiliki, hanya Tuhan yang memiliki. @ikhlaskan 

2012/04/08

"holding on or letting go"

Lama tak mendengar kabarnya sejak terakhir Aku bercerita, kalau Aku sepertinya akan pergi.

Kukatakan, Aku benar menyayanginya, melepaskan semua ikatan dan membangun dunia kita sendiri, dulu. Aku menyusun mimpi yang meninggalkannya sesulit Aku menolak novel berkualitas, atau film dengan sejuta penghargaan (itu dua hal yang sangat menggodaku ). Aku ingat setiap waktu yang ku hujani tangis, terbangun dengan kepala sakit tanpa niat membuka mata, berangkat kuliah dengan mata sembab, menunggu penjual nasi goreng dengan air mata yang berjatuhan.

It's too much for me and getting kill me day after day. Itu hari yang melelahkan. Menahan hati dan rinduku, menjaga rasionalitas tetap di tempatnya, menguatkannya tiap hari. Aku menyimpan rasa itu, masih di sana.

Aku bukan orang yang membuang dan menyesali masa lalu. Itu sama berharganya dengan masa kini, atau nanti. Dia tetap di sana, kami tetap ada, tapi kali ini dengan rasa yang lebih benar. Aku hanya berubah bentuk saja dan percaya kita berdua akan menjaganya.

Terima kasih, dengan sayang yang sama^_^

2012/01/11

"Laugh d' life.."



11hari pertama tahun ini,

Awal tahun, dan Aku sedikit gila dengan sisa-sisa tahun kemarin, belum lagi tugas baru yang berjatuhan...menimpuk...menohok dengan keras. Arggghhhh...

Beberapa hari ini, Aku dan temanku melakukan sedikit refleksi...mengapa kami menjadi dokter??

Ini pertanyaan yang telah kuajukan saat tahun pertama Coass, ketika sistem mulai menunjukkan taringnya dan menertawakan kegalauan kami. Ini kegelisahan lama yang kami maklumi untuk kesering kalinya, hingga dia mengendap, dan kami pun menyelesaikan Coass, di panggil Dokter, punya ijin praktek dan kartu keanggotaan IDI.
Membuka warung dengan Papan Praktek di depan rumah untuk beberapa saat, dan tuntutan sistem kemudian menggiring kami untuk sekolah lagi.

Aku...salah satu makhluk yang tergiring dan kini menjalani wajib militer sebagai Residen Paru. Heee

Sebenarnya, kagalauan itu di picu oleh tumpukan kemalangan yang akhir-akhir ini kami derita. Beberapa temanku bahkan berdebat memperebutkan siapa yang lebih malang, apakah dia yang selalu mendapat jaga (baca : semacam piket untuk menjaga bangsal-bangsal di rumah sakit selama kurang lebih 12 jam) di Bangsal Infeksi yang pasiennya paling banyak dan mortalitasnya lebih tinggi, atau dia yang selalu mendapat jaga akhir pekan dan tidak sempat untuk liburan.

Kami juga mengeluhkan ketidakjelasan nasib Ujian Faal yang tak juga selesai, sehingga kami bergentayangan di perpustakaan sepanjang hari, menanti panggilan ujian yang tak jelas waktunya. Tak ujian berarti penundaan stase selanjutnya, yang berarti menambah waktu wajib militer..Hikss.

Di tengah ketidakjelasan nasib itu, kami pun di hujani dengan cerita-cerita horor tentang Stase kami selanjutnya.."Stase Ruangan" (baca : Stase saat kami mulai menangani pasien secara langsung dan personal ). Kami memasuki arena pembantaian massal, berdiri di depan semua penghuni barak, menunggu berondongan peluru dari para Jenderal untuk tiap kesalahan dari presentasi kasus, laporan kematian, ataupun presentasi jurnal kami.

Haaa..membayangkannya saja, cukup menyiutkan nyali untuk terbangun esok hari dan menyadari...kami masih di tempat ini.

Aku dan temanku sangat iri pada pemain musik, ataupun penyiar TV, wartawan atau siapa saja yang kami anggap sukses tanpa harus bersusah-susah menjalani wajib militer seperti kami..toh akhirnya tetap sama, jadi "orang sukses".

...dan mengapa Kami tetap menjadi Dokter?? Untuk menjadi sukses, punya banyak uang...atau alasan klise.."untuk menolong sesama?"

Kami tak tahu..atau Aku sendiri tak pernah tahu. Ini adalah hasil dari pilihan-pilihan hidup yang tak dapat lagi kutemukan alasannya, hanya membiarkannya mengalir, menyingkirkan kerikir yang menghalang, bangun tiap kali terjatuh, menggedor pintu lain jika lainnya tertutup..dan tanpa terasa kami pun di sini.

Apapun badainya di malam hari, pagi akan tetap datang. Sistem yang kami masuki pada akhirnya akan mengantarkan kami di akhir, dan menitipkan tawa dalam tangis haru untuk keberhasilan kami tetap hidup saat itu.

Jangan salah paham, kami bukannya menyesali jalan hidup. Ini hanya semacam cara untuk menertawai hidup, kami yang menyadari keberanian untuk memilih ini meskipun sangat sadar akan kemampuan kami untuk pergi. Pada akhirnya, bagi ku..bagi kami..hanya berusaha untuk terus bertanggung jawab atas pilihan Profesi ini, sesekali menangisi kegilaan dan menertawai kegalauan kami.

Dunia kami sangat luar biasa, akan sangat sulit untuk menggambarkan dinamika kemanusiaan yang berputar di dalamnya. Kami hanya alat yang menggenapkan takdir terpenuhi.

Kami belajar dari hidup dan mengembalikan pengetahuan pada hidup.

(Doakan kami...^_^)

NB : Nina Aboet...dan yang lain..semangaaaattt!!!




2011/12/22

...stay..



Suatu sore...saat hujan dan mendengar cerita mu, Aku menuliskan ini :

"Menghilang"...Aku memikirkannya di tiap jeda memikirkanmu, memikirkanku, memikirkan mereka, memikirkan ini dan itu. ...tak ingin menghilang seperti kabut pagi, atau seperti embun yang menguap tak menyisakan tanda. Juga tak ingin menjelma noda yang membekas dan merusak warna.

sepertinya Aku tak ingin melakukan apa-apa...hanya ingin tetap di sini...

(untukmu yang membuatku gila setahun ini..^_^ )

2011/12/10

..Just one night #3

Aku masih memandang nya lekat dari kejauhan malam ini. Seperti kemarin, pun Aku masih jatuh cinta. Walau sangat ingin mempercayai dia menatapku lebih lama dari pengunjung lainnya, atau dia lebih sering melirik ke meja kami. Tak ingin Ku pastikan, hanya memilih membiarkan harapku dalam "kemungkinan", ruang yang tetap dapat membuatnya me-wujud, meski sisi lain bisa meniadakannya.

Dia pernah mengabaikanku beberapa minggu (sepertinya setelah ku perlihatkan tulisan ini). Perlakuan ramah yang tiba-tiba berbeda. Ada sesuatu yang seolah dibatasi dan menunjukkan ragu.
Aku sedikit gusar walau kupahami akhirnya, bahwa sebuah aksi menghasilkan reaksi yang bebas dan tak dapat ku hukumi. Aku cukup harus diam menunggunya. Aksi baru hanya akan melahirkan rantaian reaksi yang membuatnya semakin rumit. Dia mungkin sedang mengerjapkan mata dalam gelap, sebelum menangkap pancaran cahaya dari tiap benda.
Saat terbiasa, dia akan melihatku lebih tepat.

...dan seketika keintiman itu kembali, dia duduk bersama kami lebih lama, keramahan yang biasa, tawa yang sama. Aku ingin menarik rambutnya karena geram telah membuatku gusar. Sangat ingin kutanyakan, ada apa dengannya kemarin?? Kemana dirinya??
Tapi....Aku memilih menyimpan tanyaku dan menikmati keberadaannya. Aku merindukan dia di sana, obrolan basa basi yang memberiku ruang untuk menikmatinya. Bagiku...itu cukup.

Aku membaca tiap raut yang dihadirkannya, dan pikirku liar mengarang beberapa skenario tentang "kami kemarin". Salah satunya adalah,

......kami mungkin memiliki "sesuatu".
Ada rasa di sana yang coba kami pahami, mengapa mataku tak dapat beralih darinya, mengapa dia menghampiriku lebih lama, mengapa terkadang kami saling mencari. Kami sama menahan diri untuk menanyakannya, atau mencari tahu nama dan bentuk rasa itu. Mungkin terlalu takut untuk bertanggung jawab pada hati kami setelahnya. Entahlah...melepasnya mengawang terasa lebih baik. Lagipula...tidak semua hal harus terjawab dan terdefinsikan?
"Sesuatu" ini sepertinya lebih indah bila dalam pahaman saja.

Heee..Ini skenario yang paling ku sukai, imagi gila dengan sedikit intrik dan dramatisasi. Ada banyak "mungkin" di sana...dan biarlah tetap di sana.

Aku kembali..selalu kembali, tetap jatuh cinta tiap malam itu, hanya di tempat itu.
Terima kasih...^_^


(Heee..jangan takut padaku @ Greencoustic,Megaria XXI)