2011/07/05

That's Dunkin' Donuts save my angriness??!!!


Eight a’clock in the morning..guess where I am..!! I’m here..at Dunkin Donut, Rawa Mangun, near from My Teaching Hospital, RS Persahabatan, the place where I should be, sitting in a room and attending the Morning Conference.

I hate this..really. I wasn’t late..I was there before seven past thirty, my appointment with my friends who got the radiology stase for this month, we didn’t have to join in a morning conference coz we had to go to RSCM hospital. We just needed the letter from the department secretary, so I went to the office..and nobody there, so I looked for my friends..where they were, but nobody hang up d phone. I couldn’t join the conference ‘coz I was just late, and I couldn’t walk around in a hospital too at that time. And suddenly, one of my friends sent me message that they joined the conference with all suck reason.

I really want to give you, my pic in this place with a scary face coz I feel so upset, uncomfortable, quite angry..Heee, tidak tahu seberapa penting Aku harus menyimpan semua kekesalan itu pagi ini. Hanya saja, ini tetap terasa mengganggu, so I can’t let it that feels go for a while. Kadang-kadang mnyenangkan juga, menikmati kekesalan..mengumpat dalam hati, meletakkan kesalahan itu pada objek di luar diri. Semacam upaya penyelamatan ego dari penyesalan sepanjang waktu. ^^

Do you think my angriness is appropriate??? YUPPPPPP....!!! I deserve, So..here I am, with a cup of tea + sandwich (some special breakfast from this place). Hope the tanin in my blood will relaxing my emotion and I can meet my friends with an unemotional face. Heee...

(I like this place...leave me alone with laptop, many novel, and my ponsel..that’s enough to give me a better time in my life)

2011/06/01

Residu...means never ever enough for me...!!!???

Residu, seperti ampas kopi yang selalu ada...Aku mendiagnosanya.

Menengok riwayat percintaan hasil anamnesis singkatku padaku dan beberapa orang dengan latar belakang yang cukup heterogen, Aku percaya diri untuk menyimpulkannya. Semacam rupa lain adiksi terhadap seseorang, mengekor pada tiap pertemuan secara kasat ataupun nyata. Sesuatu yang mencegahmu bergeming bahkan hingga lambaiannya tak lagi terlihat, atau sesuatu yang tetap memaku jarimu pada tombol dial usai percakapan panjang dengannya. Mungkin mirip gejala rasa tidak puas di akhir miksi (the sensation of incomplete evacuation of urine from the bladder) pada pasien dengan Hipertrofi Prostat. Seolah ada rangkaian fisiologis yang tak tuntas.

Aku memilih mengartikannya gejala sisa tiap akhir bercinta. Ampas kopi yang tak pernah tak tersisa di dasar gelas. Bukan lupa menyesapnya, mungkin memang tak perlu di sesap. Selalu akan ada di sana. Haa..ku pastikan hampir sering terjadi padaku, padanya..??? Akan ku tanyakan nanti..^^

Jangan salah sangka..bercinta tidak selalu bercerita tentang penetrasi, bercinta bagiku adalah tiap bahagia, tiap suka, tiap tawa yang hadir karenanya. Ritualnya mungkin sama, diawali dengan rangkaian foreplay yang mengantarkan rasa mencapai klimaks sebelum surut teratur dalam lelap. Hanya saja, untukku...selalu ada residu bahkan setelah lelapku pergi. Atau mungkin...rasa itu tak pernah ejakulasi sempurna, hingga residu selalu tertinggal di sana. Mungkin saja...(butuh pertapaan panjang untuk menyelaminya lagi)

Akhirnya, Aku memintanya memintaku menemaninya. Ku putuskan untuk menghantuinya seharian, berharap dapat melakukan terapi diagnostik untuk kelainan yang sayangnya menyenangkan untukku. Tapi..jangan hiraukan motifku. Rasa terlalu mahir mengacaukannya. Maka kulemparkan tanggung jawab padanya, pada rasa yang menumpulkan rasio dengan telak.

Pikirku, tak akan ada residu bila ku cukupkan rasanya, waktunya, semuanya. Maka ku cukupkan bersamanya seharian ini. Hingga di akhir waktu Aku masih melahap wajahnya dengan rakus, merekam detil-detil parasnya dengan jelas. Aku tak lagi menghiraukan kewajaran, Ku pandanginya lekat dengan mata bulat. Aku selalu takut tak bisa merangkai rupanya dengan tepat sebelum tertidur, terlalu takut akan melupakannya esok pagi.

"Kamu baik-baik saja?" tegurnya tiba-tiba.
Aku tersenyum, setengah mengangguk. Waktunya berpisah. Dia menyentuh wajahku dalam pelukku, mengecupnya ringan. Ku bekukan waktu sesaat untuk selku menyesapinya lebih dalam.
Harusnya cukup untukku kali ini. Ku lepas pelukku, pandanganku. Aku tak perlu menghabiskan sosoknya dengan tetap berdiri di sana. Aku berbalik pergi, mencegah jemariku untuk tidak menekan tombol dial. Selangkah...menjauh, selangkah lagi, selangkah dan selangkah..lagi selangkah dan Aku bahkan telah merindukannya, kembali berbalik tanpa enggan, menatapnya yang tertelan pikuk bandara.
Haaaa..haaa..haaa..tawaku lepas. Aku tak berhasil untuk menyembuhkannya, residu itu tetap di sana mengubur dirinya dalam dan menertawaiku tanpa malu.

So...seems like..it never ever enough for me, but at least I found the final diagnostic, that's...
..when the feeling is felt enough, that's mean the "end" of story..

Just keep enjoy that residual time if you have it too..it will be fun. You will miss it when that's enough, believe me.^^



2011/05/21

"Terima kasih...!!"

Tak terasa waktu menua, mengantar keremangan senja ke meja kami. Ampas kopi menyisa di dasar gelas, habis tersesap. Aku pun mengakhiri cerita basi yang lebih mengheningkan di banding meriuhkan suasana.

"Terima kasih.." ku sisipkan senyum tulus di akhir huruf. Dia memandangku dengan kerutan di antara kedua alisnya.

"Kamu tahu kalau terima kasih mu mulai membosankan?"

Aku ingin tertawa melihat rautnya yang mulai kesal, setidaknya wajahnya memberikan kerut berbeda selain kerutan kebosanan yang ditampakkannya sejak kami bertemu. Aku telah menyiksanya dengan cerita yang membuatnya menguap puluhan kali, mendesah dan menggerutu diantara isapan-isapan rokoknya. Aku tak ingin mencari tahu apa yang membuatnya tak beranjak meninggalkanku. Aku hanya tahu, tidak bisa tidak menyayanginya dan berterima kasih karena tetap bertahan di sana.

"Aku tahu," Ku yakinkan dengan menambahkan anggukan.

Bibirku memang terlalu banyak memproduksi kata itu, bukan hanya hari ini, tapi kemarin, kemarin, dan kemarinnya. Aku pun tak sanggup lagi mendengarnya. Hanya saja, Aku tak pernah yakin kata itu menginterpretasikan dengan tepat dirinya padanya. Dia mewakili banyak sekali rasa yang tumpah tercecer dalam diriku sejak mengenalnya.

Aku telah berpikir ribuan kali untuk mengganti kata itu. Ku pikir akan menggantinya dengan pelukan, tapi Aku tak yakin dapat menyudahi pelukan itu. Pelukanku pasti akan sangat erat dan selama umurku. Dia tak akan menyukainya. Dia harus pulang. Jadi Aku mencoret pelukan itu.

Atau Ku ganti dengan menciumnya saja, tapi pun Aku tak yakin dapat berhenti menciumnya. Bibirku akan memagut tiap sudut wajahnya, tiap raut dan kerutan yang mengisahkanku hingga umurku pun habis. Dia pasti tak akan menyukainya. Dia harus pulang. Jadi, Aku tak akan menciumnya.

Atau Ku coba menggantinya dengan sebuah genggaman. Yahh..Aku hanya akan menggenggam tangannya, tapi kembali Aku tak yakin dapat melepaskan genggaman itu. Aku akan menggenggam tangannya kuat. Menyelipkan jemariku dalam tautan yang saling mengisi. Ku biarkan jari-jari kami berbicara, mengisahkan terima kasihku untuk tiap rasa yang tak habis meski umurku usai. Dia juga tak akan menyukai ini. Dia harus pulang dan tak mungkin mengajakku. Maka Aku mengabaikannya.

“Aku pulang...” ujarnya sambil berdiri.

Aku memandangnya. Aku sangat ingin menahannya dengan pelukan, ciuman, genggaman...

"Jangan berterima kasih lagi," Aku menyengerit. Dia tertawa, dan berbalik pergi.

“Setidaknya, kata itu tetap membiarkanmu pulang,” ujarku lirih tersapu angin, mengelus punggungnya yang berlalu.

"Terima Kasih..!!"


2011/05/19

I'd really love to see you tonight

Pernah suatu malam, ingatan tentang seseorang begitu menggila, hingga mendesak rasa untuk menuntaskannya melalui saluran telpon atau beberapa pesan singkat, just wanted to make d' creature in myself felt satisfied so I could sleep without that disturbance. Dia serupa kenangan, kisah yang melekat di tiap sel. Tau kan..klo sel-sel kita memiliki ingatan yang sangat kuat? Mereka menyaksikan sejarah dan menyimpan ceritanya dengan rapi. Ingatan itu tertidur lelap, kadang menggeliat dan menyengat rasa, atau bahkan terbangun menyentakkan sadar.

Saat itu malam sudah sangat pekatnya menyelimuti lelapnya mimpi, dan Ku yakin tak ada alasan yang rasional mengapa harus mengganggunya. Kalian akan menertawaiku saat Ku katakan, "Aku hanya rindu saja." Dia pun akan menutup telponnya, mengira Aku gila.
Haaa..saat-saat seperti selalu sangat menyiksa, am I right?? Please tell me..I'm not d ' only one who have felt that.
Dan akhirnya... I found this song^^

I'd really love to see you tonight

Hello, yeah, it's been a while.
Not much, how 'bout you?
I'm not sure why I called,
I guess I really just wanted to talk to you.
And I was thinking maybe later on,
We could get together for a while.
It's been such a long time,
And I really do miss your smile.

I'm not talking 'bout moving in,
And I don't want to change your life.
But there's a warm wind blowing the stars around,
And I'd really love to see you tonight.

We could go walking through a windy park,
Or take a drive along the beach.
Or stay at home and watch t.v.
You see, it really doesn't matter much to me.

I'm not talking 'bout moving in,
And I don't want to change your life.
But there's a warm wind blowing the stars around,
And I'd really love to see you tonight.

I won't ask for promises,
So you don't have to lie.
We've both played that game before,
Say I love you, then say goodbye.

I'm not talking 'bout moving in,
And I don't want to change your life.
But there's a warm wind blowing the stars around,
And I'd really love to see you tonight.


Heeee..Ini hanya rindu, hanya ingin kita bersama menertawai kita kemarin. Could I send this song to u??^^

2011/05/10

"Silent Escape"


Seorang teman membagi sapaan hangat pagi ini, membuat ingatan tentangnya sekonyong berkelebat dan menggelitik senyumku.

Pernah dia mendatangiku, menegur wajahku yang katanya cukup mengganggu pandangannya. Jangan salah paham denganku, Aku tak pernah memberinya wajah dengan kerutan di dahi, mata yang nyalang melotot, gemeretuk gigi ataupun bibir yang mengkerut. Aku hanya menghadiahinya senyum tiap pandangan kami beradu. Sekali lagi jangan buruk sangka padaku, itu hanya senyum tanpa lirikan nakal yang menggoda (niat menggodanya saja tidak pernah ada). Ternyata Aku sangat mirip dengan wajah kekasihnya dulu, yang membuatnya tak bisa berhenti untuk menoleh ke arah ku. Kali itu Aku tak lagi tersenyum tapi terbahak. Dia pun bercerita, jika dia akan bolak balik membuka foto anaknya di ponsel tiap habis melihat wajahku. (heeee..Aku tak melakukan apapun, beneran). Kami akhirnya saling berbagi tawa, dia dengan senangnya menceritakan tentang keluarganya, dan binar itu tetap di sana dengan sparkling yang berbeda saat dia bercerita tentang perempuan yang mirip denganku, dan Aku tak dapat menahan senyumku saat dia menatap wajahku.^^

Sepertinya dalam hidup ini kita membutuhkan ruang untuk menghilang sejenak, tempat untuk kembali menikmati kesenangan tanpa aturan yang membelit, jeda untuk sedikit mengatur nafas sebelum kembali berlari dengan semua tuntutan hidup. Tanpa sadar kita membuat tempat pelarian dalam pikiran kita, bisa saja itu sebuah manifestasi keinginan-keinginan bawah sadar yang kita represi dengan sadar karena tidak sesuai dengan konsep sosial yang di anggap sebagai kebenaran secara umum. Entah bagaimana wujud ruang pelarian itu, tapi pada teman saya dan mungkin pada banyak orang di luar sana wujudnya melekat pada sebuah sosok yang kita tempatkan hati-hati dalam ingatan. Atau bukan sosoknya sebenarnya, tapi rasa yang mengikut bersamanya tiap ingatan itu kembali.

Mungkin yang akan merepotkan jika sosok itu mencoba mewujud secara nyata, padahal hadirnya dikarenakan tak ada ruang untuknya dalam dunia materi ini. Bukan tidak mungkin tapi akan butuh energi yang sangat banyak, dan yakin padaku..ruang pelarian itu akan menghilang bersamaan dengannya.

Apakah teman saya melakukan sesuatu yang salah?? Kalau ditanyakan padaku, Ku katakan bukan ruangnya untuk menghukumi benar atau salah. Ini tak pernah mengartikan, jika teman saya tidak mencintai keluarganya. Ruang pelarian yang diciptakannya hanya ruang yang hanya sesekali di tengoknya, sekedar untuk me-refresh dan menjaga kewarasan agar hidup tetap terasa hidup. Bukankah substansi mencinta akan selalu sama, wujudnya saja yang berbeda, dan harusnya tak ada rumusan perbandingan dalam mencinta, karena tiap cinta pasti memiliki maqam nya sendiri. Just let it ur self to enjoy every luv in ur life.

So..may better if u just keep ur silent escape..seems like we need it in our live, if u have more energy and no doubtfull 'bout that..pls make it real and don't forget to share ur story with me..^^